Investor global lagi ‘mabuk kepayang’ sama India. Startup-nya ‘gacor’, CEO-nya di mana-mana. Terus kita? Indonesia sering dibandingin, tapi kok rasanya kita ‘nge-gas’-nya beda? Apa kita beneran ‘kalah’?
Tahan dulu. ‘DNA’ ekonomi kita itu beda. India ‘jago’-nya di services (jasa) dan software. Mereka ‘jual otak’ (IT, call center). Indonesia? ‘DNA’ kita itu di resources (sumber daya). Kita ‘jual barang’: nikel, sawit, batu bara.
Makanya, ‘jurus’ kita bukan bikin startup IT doang kayak India. Jurus kita adalah ‘Hilirisasi’—mengolah nikel jadi baterai. Kita main di manufacturing (pabrik), India main di services. Dua-duanya ‘cuan’, tapi jalurnya beda.
Jadi, kita bukan ‘The Next India’. Kita adalah ‘The First Indonesia’. Tantangan kita bukan ngalahin India di software, tapi ngalahin diri sendiri: upgrade skill SDM kita dari ‘kuli tambang’ jadi ‘insinyur pabrik’ canggih. Itu game-nya!
Intisari:
- Investor global sedang ‘euforia’ pada India, memicu perbandingan dengan Indonesia.
- ‘DNA’ ekonomi India adalah services (jasa/software), sementara ‘DNA’ RI adalah resources (hilirisasi).
- Strategi RI fokus pada manufacturing (pabrik baterai), berbeda dengan India.
- Indonesia tidak perlu jadi ‘The Next India’, tapi fokus pada upgrade skill SDM di bidang industri.

